Rabu, 21 Mei 2014

Mata Berperan Penting


Mata Berperan Penting
oleh: Elly Fatmawati 
 
Peran kontak mata merupakan bagian paling mendasar untuk menunjukkan adanya perhatian, tetapi hal ini sering diabaikan.[1] Penghayatan tatapan yang tajam akan memunculkan reaksi ketertarikan tersendiri seperti dua magnet yang diadu. Mata yang berbinar akan memunculkan keterikatan penuh arti bagi seseorang dengan lawan bicaranya, sehingga timbullah kenyamanan diantara mereka.
Seseorang yang nyaman akan memberikan reaksi hangat terhadap apa yang sedang dibicarakan. Sorotan mata penuh arti diantara keduanya memunculkan rasa simpatik yang mendalam, sehingga perhatian akan timbul dengan sendirinya. Situasi seperti ini membutuhkan konsentrasi tinggi untuk mencari empati teman yang diajak bicara, dan pada akhirnya mereka akan saling mengerti tentang keluh kesah yang sedang dihadapi. Memahami masalah teman itu sangat sulit ketika kita tidak fokus dengan permasalahan yang ada. Semua luapan emosi yang dikeluarkan di sepanjang percakapan jangan sampai teralihkan oleh apapun, karena semua perhatian dan pengertian kita sangat penting bagi mereka melalui gelombang dari tatapan hangat.


[1] Tony Buzan, Sepuluh Cara Jadi Orang yang Pandai Bergaul, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004, hlm.41

Kamis, 15 Mei 2014

Mengisi Waktu Luang yang Bermanfaat Bagi Mahasiswa


MENGISI WAKTU LUANG YANG BERMANFAAT
BAGI MAHASISWA
Oleh: Elly Fatmawati

Waktu adalah uang. Maksud dari pepatah tersebut yaitu bahwa waktu merupakan kesempatan yang sangat berharga. Berbicara dengan waktu, adakalanya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Masih banyak orang yang belum bisa mengatur waktu dengan baik. Apalagi rasa malas dan malas yang muncul dalam diri mereka. Ketika merasa enggan untuk melakukan sesuatu,  yang pada akhirnya akan menjadi tertunda. Tidak terasa waktu akan terbuang sia-sia. Kebiasaan seseorang ketika menunda-nunda pekerjaan itu sebuah kebiasaan yang muncul akibat dari pengalaman sebelumnya. Penyebab dari kurangnya sikap disiplinlah yang akibatnya akan memicu dampak yang buruk untuk kedepan.
Baik buruknya dan sukses tidaknya seseorang dipicu dari berhasil tidaknya dalam pemanfaatan waktu luang selama hidupnya.
Waktu adalah kehidupan. Waktu merupakan bagian dari modal. Karena itu ketika alternatif yang ada sama-sama memiliki kelebihan maka alternatif yang sesuai dengan waktu yang tersedia adalah yang terbaik.[1]
Masa SMA memang sangatlah berbeda dengan kuliah di perguruan tinggi. Ketika di SMA jadwal pelajaran masih dipadukan atau disamakan dalam satu kelas. Sementara di perguruan tinggi jadwal makul sudah berbeda dengan mahasiswa satu sama lain. Ketika kuliahpun, banyak waktu luang yang masih tersisa. Dalam satu minggu bisa jadi hanya 4 hari dalam mengikuti perkuliahan, sedangkan di SMA wajib mengikuti pelajaran satu minggu full. Dengan demikian banyak waktu yang dimiliki mahasiswa untuk mengembangkan bakat dengan memanfaatkan waktu luang.
Mahasiswa belajar di perguruan tinggi dengan tujuan untuk menjalani pendidikan dengan harapan dapat menguasai ilmu dalam bidang yang diambil dan berusaha untuk tidak mengecewakan kedua orang tuanya. Berangkat dan hanya bertatap muka dengan dosen di kelas tidak cukup untuk membekali pengetahuan mereka, melainkan mahasiswa juga harus mencari pengetahuan dan keterampilan di luar kelas maupun luar kampus. Banyak waktu yang dimiliki mahasiswa untuk mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya guna membekali diri di berbagai bidang yang ingin ditekuni.
Rasa malas dan menunda-nunda dalam melakukan sesuatu kerap terjadi. Banyak waktu terbuang sia-sia akibat dari kebiasaan tersebut. Kedisiplinan seseorang itu sangat penting, karena dengan sikap disiplin mampu mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. Pada umumnya mahasiswa kurang bisa mengatur waktu untuk kegiatan yang bermanfaat. Banyak aktivitas yang mereka lakukan tidak berguna dan hanya membuang-buang waktu saja. Kegiatan tersebut seperti bermain game, nonton film, keluyuran tanpa tujuan, nongkrong-nongkrong di pinggir jalan sehingga waktupun terbuang sia-sia.
Setiap orang wajib mengambil keputusan terhadap apa yang harus dilakukan. Sehingga dengan begitu Ia mampu melaksanakan apa yang diputuskan dengan penuh semangat.[2]
Keputusan itulah yang mengantarkan mahasiswa mengubah kebiasaan lama yang kurang bermakna dengan memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal positif yang dapat membangun karakter baik untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Caranya dengan menumbuhkan kesadaran bahwa waktu tidak akan kembali lagi sehingga mau tidak mau harus mengerjakan pekerjaan pada saat itu juga. Dalam menumbuhkan semangat tersebut bisa menjadikan aktivitas hiburan sebagai hadiah bila telah menyelesaikan sebuah pekerjaan.
Melalui kerja, seseorang mendapatkan identitasnya karena kerja adalah salah satu cara yang utama dimana seseorang memperoleh statusnya dalam suatu kelompok. Lagi pula kerja yang menyediakan sarana utama bagi interaksi sosial dalam masyarakat. Terlebih bagi segolongan orang mungkin kerja merupakan satu-satunya sarana untuk membentuk hubungan sosial.[3]
Bagi mahasiswa, dalam menghargai waktu agar tidak terbuang sia-sia dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat yaitu bisa membaca Al Qur’an, membaca buku, mengunjungi perpustakaan, berorganisasi, menulis, dan masih banyak lagi kegiatan yang bermanfaat guna menggapai sebuah sasaran yang ingin dicapai dan dicita-citakan.
Bila sasaran harus dicapai maka pemberian tanggung jawab atas pencapaian keberhasilan mereka di atas pundak seorang individu tertentu selalu merupakan gagasan yang baik.[4]
Pencapaian dikatakan berhasil ketika mahasiswa mampu menjadikan dirinya sukses. Karena kesuksesan masa depan ditentukan dari sekarang dengan menjadikan waktu sebagai persiapan menyongsong keberhasilan dengan memanfaatkannya untuk kegiatan yang lebih penting.
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Kalimat tersebut sering menjadi satu pertanyaan bagi mereka yang belum menyadari bahwa manusia diberikan sebuah fasilitas yang sangat mewah oleh Tuhan. Manusia diberikan fasilitas tersebut untuk dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari dan salah satu fasilitas yang banyak memberikan kontribusi dalam berfikir adalah otak.[5]
            Oleh karena itu sebagai mahasiswa harus bisa menggunakan otaknya untuk berfikir lebih positif dan maju, tidak hanya membuang-buang waktu saja tetapi harus bisa membaginya dan menjadikan dirinya sebagai calon pemimpin yang baik, mempunyai banyak pengalaman dengan menyibukkan diri sebagai mahasiswa yang kreatif. Mahasiswa yang kreatif yaitu mahasiswa yang mampu menyusun strategi dalam menentukan keberhasilan masa depan. Secara khusus, banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya yaitu kecerdasan, bakat, ketrampilan dan kecakapan, kemampuan dan minat, motivasi, kesehatan, kebutuhan biologis, kepribadian, cita-cita dan tujuan. Untuk itu, setiap individu harus mampu mengmbil keputusan demi kebaikan masa depan.
Banyak waktu luang yang sebenarnya kita miliki. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Bila kita bisa memanfaatkannya dengan baik, maka banyak keuntungan yang kita peroleh. Keuntungan tersebut yang mengantarkan kita menuju gerbang kesuksesan. Kesuksesan merupakan suatu hal yang dicita-citakan oleh setiap orang. Bahkan demi mencapai kesuksesan mereka rela mengeluarkan uang banyak demi meraih apa yang ingin dicapainya.
Pencapaian itulah yang sulit untuk dikejar. Selain kita harus belajar, kita juga harus bersungguh-sungguh dalam memotivasi diri untuk menjadi yang terbaik dengan mengikuti kegiatan yang mendukung untuk masa depan. Ketika yakin akan keberhasilan, maka kita akan mempunyai banyak jalan untuk sampai di depan sana. Selain tidak rugi, kita juga akan merasakan manfaatnya dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan dengan rasa tanggung jawab dan sungguh-sungguh dalam melakukannya.
Banyak manfaat ketika kita bisa menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Dengan kata lain ketika kita mampu memanfaatkan waktu yang biasanya diabaikan, sebenarnya ada banyak hikmah yang bisa diambil. Manfaatnya kita akan di latih untuk lebih disiplin sehingga mampu menggunakan waktu secara efisien. Membuat untuk mengenali diri sendiri tentang bakat dan minat yang sebelumnya belum diketahui oleh diri kita. Selain itu, sebagai sarana belajar dan pengembangan potensi yang kita miliki serta diajarkan untuk lebih disiplin dalam mengerjakan sesuatu.
Bakat dan minat seseorang dipengaruhi oleh diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Ketika yakin akan bakat dan minat kita, kita yakin dengan apa yang akan dilakukan kedepannya akan lebih mudah untuk melaluinya. Seperti halnya lingkungan juga sangat berpengaruh dalam pengembangan bakat dan minat. Ketika lingkungan sekitar mendukung, maka kita akan lebih mudah dalam melakukan proses pengembangan tersebut.
Oleh karena itu, sebagai mahasiswa harus pandai-pandai dalam mengatur waktu. Tidak hanya belajar di kelas saja namun harus mencari kesibukan untuk hal yang bermanfaat sebagai pengembangan pengetahuan yang dimiliki. Karena pada akhirnya semata-mata hanya untuk diri sendiri bukan untuk orang lain. Semakin kita pandai memanfaatkan waktu semakin kita hidup lebih disiplin dan bertanggung jawab. Sehingga kita tidak akan membuang waktu dengan sia-sia namun kita lebih menghargai waktu luang dengan kegiatan yang positif dan bermakna.


[1] DR. Akram Ridha, Jangan Menyesal Kiat Mengambil Keputusan Efektif, terj. Khalifurrahman Fath, Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group), Jakarta, 2005, hlm. 202.
[2] Ibid., hlm. 60.
[3] Dra. Kartini Kartono, Menyiapkan dan Memandu Karier, CV. Rajawali, Jakarta, 1991, hlm. 21.
[4] Marianne Talbot, Kiat Praktis Mewujudkan Pernyataan Misi Anda, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2005, hlm . 107.
[5] Dr. Hamzah dkk, Mengelola Kecerdasan dlam Pembelajaran Sebuah Konsep Pembelajaran Berbasis Kecerdasa, Bumi Ksara, Jakarta, 2009, hlm. 59.

Senin, 12 Mei 2014

Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa


METODE dan TEKNIK PEMBELAJARAN BAHASA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah    : Pendidikan Bahasa Indonesia
Dosen   Pengampu      : Imam Mas Arum, M. Pd.







Disusun Oleh :
1.      Vina Ardiyanti (11512039)
2.      Elly Fatmawati (11512083)


JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
SEMESTER 4


 
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kami bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Makalah ini kami beri judul Metode dan Teknik Pembelajara Bahasa dengan harapan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk diri kami sendiri dan juga untuk para pembaca.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Imam Mas Arum, M. Pd. selaku dosen pengajar mata kuliah Pendidikan Bahasa Indonesia, yang telah membimbing kami dan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini hingga selesai.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa STAIN Salatiga. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  kami  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  kami di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.




Salatiga, Maret 2014


Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................................................ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................1
A.    Latar Belakang .............................................................................................................1
B.     Rumusan Masalah ........................................................................................................1
C.     Tujuan Penulisan ..........................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................................2
A.    Metode Pembelajaran Bahasa .......................................................................................2
B.     Teknik Pembelajaran Bahasa ........................................................................................5
C.     Metode dan Teknik Pengajaran yang Baik ..................................................................10
BAB III PENUTUP...............................................................................................................12
A.    Kesimpulan ..................................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................13

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Bahasa sangat penting dalam kehidupan. Dengan bahasa kita dapat menyampaikan keinginan pendapat dan perasaan. Dengan bahasa pula kita dapat memahami dan mengetahui apa yang terjadi di dunia dan lingkungan sekitar. Setiap orang memiliki kemampuan berbahasa.
Pembelajaran mengandung arti adanya kegiatan siswa mempelajari sesuatu atas petunjuk atau arahan guru. Dalam pembelajaran mengandung makna bagaimana usaha guru supaya siswanya aktif untuk belajar. Dalam pembelajaran bahasa, metode dan teknik saling berhubungan dan saling menentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[1]
Dalam hal ini, penulis akan membahas makalah tentang Metode dan Teknik Pembelajaran Bahasa.

B.     Rumusan  Masalah
1.      Bagaimana metode pembelajaran bahasa dalam proses belajar mengajar?
2.      Bagaimana teknik pembelajaran bahasa dalam proses belajar mengajar?
3.      Bagaimana metode dan teknik pengajaran bahasa yang baik?

C.    Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui metode pembelajaran bahasa dalam proses belajar mengajar.
2.      Mengetahui teknik pembelajaran bahasa dalam proses belajar mengajar.
3.      Mengetahui metode dan teknik pengajaran bahasa yang baik.


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Metode Pembelajaran Bahasa
Pada umumnya, metode diartikan sebagai cara mengajar. Sebenarnya pengertian yang tepat untuk cara mengajar adalah teknik mengajar, sedangkan metode pada hakikatnya adalah suatu prosedur untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan yang meliputi hal-hal sebagai berikut:[2]
1.      Pemilihan bahan
2.      Urutan bahan
3.      Penyajian bahan
4.      Pengulangan bahan
Metode-metode yang yang dapat diterapkan di dalam pengajaran bahasa Indonesia di SD dan menunjang pendekatan yang disarankan oleh kurikulum bahasa Indonesia yang diberlakukan, yaitu Direct Method, Natural Method, Reading Method, dan Eclectic Method.[3]
1.      Direct Method
Direct Method atau Metode Langsung ialah metode pengajaran bahasa yang di dalam pelaksanaannya guru langsung menggunakan bahasa sasaran, yaitu bahasa yang diajarkan. Dari pihak siswa tidak boleh menggunakan bahasa ibu atau bahasa pertamanya selama pembelajaran berlangsung. Pada tahap permulaan tidak banyak diajarka tata bahasa. Kata-kata diajarkan dengan cara langsung menghubungkan dengan benda-benda , situasi-situasi  dan gerak yang digambarkan oleh kata itu.
Tujuan Metode Langsung di SD ialah penggunaan bahasa sasaran dalam dalam hal ini bahasa Indonesia yang merupakan bahasa kedua secara lisan agar siswa mampu berkomunikasi dalam bahasa kedua tersebut.
Adapun fungsi Metode Langsung ini bisa dibedakan menjadi dua, yaitu bagi siswa dan bagi guru. Bagi siswa berfungsi memudahkan siswa untuk mampu berbahasa (lisan) dengan tepat, memberikan situasi yang menyenangkan, dan mendorong siswa untuk belajar bahasa. Sedangkan bagi guru metode ini memudahkan guru untuk mengajar berbahasa tanpa menggunakanbahasa pengantar bahasa lain selain bahasa sasaran.
Kegiatan dalam proses belajar mengajar apabila menggunakan Metode Langsung, sebagai berikut:
a.       Guru memulai pelajaran dengan dialog atau humor yang pendek dalam bahasa sasaran (BI).
b.      Guru kemudian mulai menyajikan materi secara lisan dengan gerakan-gerakan, isyarat-isyarat, dramatisasi-dramatisasi, atau gambar-gambar.
c.       Guru mengadakan tanya jawab dalam bahasa sasaran (BI) betrdasarkan dialog atau humor yang telah disampaikan.
d.      Guru mengajarkan tata bahasa secara induktif dengan memberikan contoh-contoh yang merangsang siswa untuk menyimpulkan sendiri.
e.       Guru memberikan bacaan sastra untuk pemahaman dan kenikmatan, tetapi tidak sampai menganalisis secara struktural.
f.       Guru mengajarkan budaya yang relevan pada aspek-aspek bahasa secara induktif.
2.      Natural Method
Natural Method yang disebut juga Metode Murni atau Metode Alamiah adalah metode yang dalam pelaksanaannya menggunakan peraga yang berupa benda-benda, gambar-gambar, atau peragaan secara langsung dalam aktivitas sehari-hari.
Metode Murni ini mempunyai ciri-ciri, seperti berikut ini:
a.       Kosakata baru dijelaskan dengan cara menggunakan kata-kata yang sudah diketahui siswa sebelumnya.
b.      Makna sesuatu kata diajarkan dengan cara inferensi/menarik kesimpulan dari beberapa contoh yang diberikan.
c.       Kamus dipergunakan untuk mengingat kata-kata yang diluapakan atau mencari makna kata-kata baru.
d.      Tata bahasa digunakan untuk membetulkan kesalahan.
e.       Penyajian pelajaran mengikuti urutan : mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis, kemudian baru diajarkan tata bahasa.
Proses pembelajaran dalam menerapkan metode ini adalah:
a.       Pertama-tama guru memperkenalkan bunyi-bunyi bahasa, kata-kata dan kalimat bahasa yang dipelajari secara lisan dengan menggunakan alat peraga.
b.      Guru menyuruh siswa meniru apa yang diucapkan seperti pada butir (1).
c.       Dalam penyajian materi, guru menggunakan urutan-urutan berbicara, membaca, menulis, baru mengajarkan tata bahasa.
3.      Reading Method
Merupakan metode membaca dipakai di Amerika Serikat pada tahun 1929-an baik di sekolah menengah maupun di perguruan tinggi. Tujuannya adalah untuk memberi pelajar/mahasiswankemampuan dalam memahami teks ilmiah yang mereka perlukan dalam studi islam.
Langkah-langkah penyajian metode ini menurut Rivers (dalam Subyakto-N, 1988:17-18), seperti brikut:
a.       Pemberian kosakata dan istilah-istilah yang dianggap sukar oleh guru bagi siswanya.
b.      Penyajian bacaan dalam kelas yang dibaca secara diam selama kurang 10-15 menit.
c.       Diskusi mengenai isi bacaan yang dapat berupa tanya jawab dengan menggunakan bahasa sasaran.
d.      Pembicaraan/keterangan tentang bahasa dapat dilakukan secara singkat , kalau ini memang dirasa perlu oleh guru.
e.       Pembicaraan tentang kosakata yang relevan dengan jalan memberikan daftar kosakata yang disiapkan sebelumnya.
f.       Pemberian tugas, seperti mengarang, membuat denah, skema, diagram, dan sebagainya (yang berkaitan dengan topik bacaan).
Metode ini dapat juga diterapkan untuk pembelajaran bahasa Indonesia di SD dengan jalan dimodifikasi disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat kemampuan siswa.
Ada beberapa tujuan khusus yang ingin dicapai guru dalam metode membaca, yaitu:[4]
a.       Mengajar membaca dengan cepat.
b.      Mengajar pemahaman teks tanpa pencurahan waktu yang terlalu banyak pada latar belakang bacaan.
c.       Mengajar membaca dengan suara keras untuk menunjang keterampilan melafal.
4.      Eclectic Method
Lahirnya metode ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa tidak ada satupun metode pengajaran bahasa yang paling baik karena setiap metode yang ada ada keuntungan/keunggulan/kebaikan juga ada kerugian/kelemahan/kejelekannya. Itulah sebabnya guru bebas memilih metode yang mana yang paling cocok dengan situasi kelas yang akan diajar.
Eclectic artinya memilih secara bebas. Dalam hubungannya dengan metode pengajaran bahasa, bebas di sini yang dimaksud adalah bebas untuk menambah atau mengombinas/mencampur antara metode yang satu dengan lainnya yang dianggap cocok dan diperkirakan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Itulah sebabnya Eclectic method diterjemahkan secara bebas dalam bahasa Indonesia Metode Campuran.

B.     Teknik Pembelajaran Bahasa[5]
Teknik adalah upaya guru, usaha-usaha guru, atau cara-cara yang digunakan guru untuk mencapai tujun langsung dalam pelaksanaan pembelajaran di dalam kelas pada saat itu.
Adapun macam-macam teknik pembelajaran bahasa (yang dapat juga dijumpai dalam pembelajaran mata pelajaran lain) sepertiberikut ini (Saliwangi, 1989:56-67).
1.      Teknik Ceramah
Sampai sekarang teknik ini masih banyak digunakan guru dalam proses belajar mengajar. Hal ini disebabkan oleh anggapan bahwa mengajar itunnadalah menerangkan dengan berbicara/ceramah. Itulah sebabnya mengapa salah satu fungsi guru sebagai informator.
Teknik ceramah mempunyai keuntungan sebagai berikut:
a.       Dapat menghemat waktu.
b.      Dapat digunakan dalam kelompok besar.
c.       Dapat dipakai sebagai penambah bahan yang sudah dibaca.
d.      Dapat dipakai untuk mengulang atau memberi pengantar pada pelajaran atau aktivitas tertentu.
Disamping keuntungan diatas Teknik Ceramah mempunyai kekurangan, antara lain sebagai berikut:
a.       Tidak semua guru dapat berbicara yang menarik dan baik.
b.      Dalam metode ini hanya satu indra yang aktif yaitu pendengaran.
c.       Kadar CBSA-nya rendah.
Teknik Ceramah ini dapat digunakan untuk melatih keterampilan mendengarkan (menyimak). Siswa dilatih untuk membuat intisari dari ceramah yang didengarna, kemudian menceritakan kembali dengan bahasanya sendiri.
2.      Teknik Tanya Jawab
Pada umumnya teknik ini mengikuti teknik ceramah yang telah dilakukan. Tujuannya adalah untuk mengesek pemahaman siswa terhadap ceramah yang baru diberikan atau bisa juga pertanyaan yang diajukan guru untuk mengecek pemahaman siswa terhadap isi bacaan yang telah mereka baca.
Siswa mengajukan pertanyaan kepada guru biasanya untuk:
a.       Mengetahui hal-hal yang dirasa belum jelas, sekalipun sudah diterangkan guru.
b.      Memperoleh jawaban terhadap permasalahan yang dihadapinya.
c.       Memperjelas pendapat yang dirasa bertentangan dengan pendapat siswa sendiri.
Kebaikan metode tanya jawab secara sistematis yaitu sebagai kerikut:[6]
a.       Situasi kelas lebih hidup karena para siswa aktif berpikir dan menyampaikan buah pikirannya melalui jawaban atas pertanyaan guru.
b.      Sangat positif untuk melatih anak agar berani mengemukakan pendapatnya dengan lisan secara teratur.
c.       Timbulnya perbedaan pendapat di antara para anak didik, membawa kelas pada situasi diskusi yang menarik.
d.      Siswa yang segan mencurahkan perhatian, menjadi berhati-hati dan secara sungguh-sungguh mengikuti pelajaran.
Menurut Sudirman (1992) bahwa kelemahan metode tanya jawab dalam proses pembelajaran antara lain:[7]
a.       Siswa sering merasa takut, apabila guru kurang dapat medorong siswa untuk berani dengan menciptakan suasana yang tidak tegang dan akrab.
b.      Tidak mudah membuat pertanyaan yang sesuai dengan tingkat berpikir siswa dan mudah dipahami siswa.
c.       Waktu sering banyak terbuang, terutama apabila siswa tidak dapat menjawab pertanyaan sampai dua atau tiga orang.
d.      Sering jawaban diborong oleh sejumlah kecil siswa yang menguasai dan senang berbicara, sedangkan banyak siswa lainnya tidak memikirkan jawabannya.
3.      Teknik Diskusi Kelompok
Tujuan digunakannya teknik ini adalah melatih siswa untuk mengeluarkan pendapat dan mau menerima kritikan kalau pendapatnya memang kurang benar. Juga melalui diskusi kelompok ini siswa dapat menguji kebenaran pendapatnya mengenai sesuatu hal.
Keunggulan diskusi kelompok sebagai suatu teknik dalam proses pembelajaran bahasa Indonesia, antara lain berikut ini:
a.       Kadar CBSAnya tinggi.
b.      Memberi peluang kepada siswa untuk saling mengemukakan pendapat.
c.       Mendorong terciptanya rasa kesatuan.
d.      Dapat memperluas pandangan siswa.
e.       Melatih mengembangkan kepemimpinan bagi siswa yang ditunjuk sebagai moderator.
Selain keunggulan, Teknik Diskusi Kelompok ini mempunyai kekurangan sebagai berikut:
a.       Tidak dapat digunakan secara efektif untuk kelompok yang besar.
b.      Kalau kurang terkendali dapat menyimpang dari tujuan.
c.       Membutuhkan moderator yang terampil.
d.      Adakalanya hanya didominasi oleh siswa yang suka dan berani bicara.
4.      Teknik Pemberian Tugas
Teknik ini disebut juga Resitasi yang dapat diberikan kepada siswa secara individual atau kelompok. Dengan teknik ini diharapkan siswa lebih mendalami materi pelajaran yang diberikan guru. Biasanya pemberian tugas ini diikuti oleh tugas melaporkan hasil kerja siswa yang disebut resitasi. Itulah sebabnya Teknik Pemberian Tugas ini disebut juga Resitasi.
Kelebihan dari Metode Pemberian Tugas yaitu:[8]
a.       Pengajaran klasikal cenderung untuk menyesuaikan cara dan kecepatan mengajar terhadap ciri-ciri umum di kelas itu.
b.      Metode pemberian tugas digunakan untuk melatih aktivitas, kretivitas, tanggung jawab dan disiplin peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
c.       Peserta didik mendapat kesempatan untuk melatih diri bekerja secara mandiri.
d.      dapat merangsang daya pikir peserta didik, karena mereka dituntut untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dihadapinya.
Disamping kelebihan yang dimilikinya, metode pemberian tugas juga memiliki beberapa kekurangan , yaitu:[9]
a.       Apabila diberikan tugas kelompok, seringkali yang mengerjakannya hanya peserta didik tertentu saja. Sedangkan yang lainnya hanya numpang saja.
b.       Apabila tugas diberikan diluar kelas, sulit untuk mengontrol peserta didik bekerja secara mandiri dan menyuruh orang lain untuk menyelesaikannya.
c.        Sering terjadi penyimpangan dalam penggunaan metode pemberian tugas dari pengajaran menjadi semacam hukuman.
d.      Apabila tugas sulit dikerjakan akan menyita waktu peserta didik untuk kegiatan lainnya.
5.      Teknik Ramu Pendapat
Teknik ini merupakan perpaduan dari Teknik Tanya-Jawab dan Teknik Diskusi. Teknik ini bisa diterapkan dalam pembelajaran sastra misalnya puisi, cerpen atau novel.
Keunggulan teknik ini, antara lain berikut ini:
a.       Dapat membangkitkan pikiran yang kreatif.
b.      Dapat merangsang partisipasi siswa.
c.       Dapat memancing timbulnya pendapat-pendapat baru.
d.      Dapat digunakan dalam kelompok kecil maupun kelompok besar.
e.       Hanya sedikit peralatan yang diperlukan.
Kekurangan teknik ini relatif sedikit, misalnya kita tidak dapat mengendalikan kelas bisa lepas kontrol.
6.      Simulasi
Simulasi artinya tiruan (imitasi). Teknik simulasi ini tepat sekali untuk melatih keterampilan berbicara. Dalam pelaksanaannya guru terlebih dahulu menetapkan peran-peran yang akan dilakukan oleh siswa dalam permainan simulasi.
Guru memberi pengarahan tentang apa yang akan diperankan oleh masing-masing siswa yang telah ditunnjuk. Siswa yang kebetulan belum mendapat giliran ditunjuk untuk memainkan suatu peran, ditugaskan sebagai penonton yang mencatat kemungkinan adanya kesalahan bahasa yang dilakukan oleh temannya ketika bermain peran. Kesalahan-kesalahan itu nantinya didiskusikan setelah permainan memainkan peran telah selesai.
Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode mengajar, diantaranya adalah :[10]
a.       Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi situasi yang sebenarnya kelak; baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi dunia kerja.
b.      Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.
c.       Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
d.      Memperkaya pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.
e.       Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran.
Disamping memiliki kelebihan, simulasi juga mempunyai kelemahan, diantaranya :[11]
a.       Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b.      Pengelolaan yang kurang baik. Sering  simulasi dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
c.       Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan simulasi.

C.    Metode dan Teknik Pengajaran Bahasa yang Baik[12]
Cara guru mengajar mempengaruhi cara siswa belajar. Bila guru mengajar hanya dengan metode ceramah maka siswa pun belajar dengan cara menghafal. Bila guru mengajar dengan memberikan banyak latihan maka siswa belajar melalui pengalaman. Metode pengajaran yang baik yaitu tidak hanya menggunakan atau memicu satu metode saja melainkan harus menyesuaikan materi yang diajarkan sesuai metode yang tepat. Selain itu guru harus bisa kreatif dalam mengajarkan materi di kelas, tidak monoton dan membosankan melalui pilihan metode yang tepat.
Syarat minimal yang harus dipenuhi oleh guru keterampilan berbahasa ialah penguasaan materi tentang keterampilan berbahasa serta dapat mengajarkannya kepada siswa. Cara mengajarkan keterampilan berbahasa atau teknik pengajaran menyimak merupakan hal penting bagi seorang guru keterampilan berbahasa.
Disamping kuat dalam penguasaan materi pelajaran guru juga harus kaya pengalaman dengan beraneka ragam , metode pengajaran atau teknik pengajaran. Guru keterampilan bahasa harus mahir tentang seluk beluk menyimak dan kaya pengalaman dengan teknik pengajaran keterampilan bahasa.
Baik buruknya suatu teknik pengajaran keterampilan berbahasa tidaklah terletak pada teknik pengajaran itu sendiri. Guru harus menggunakan sesuatu teknik pengajaran keterampilan berbahasa dalam konteks yang tepat, misalnya sesuai dengan tujuan, bahan pengajaran maka jadi baiklah teknik pengajaran tersebut, dan sebaliknya. Dapat disimpulkan bahwa teknik pengajaran bahasa itu bersifat netral.
Sesuatu teknik pengajaran keterampilan berbahasa dapat dikatakan baik apabila teknik pengajaran tersebut:
1.      Memikat, menantang atau merangsang siswa untuk belajar.
2.      Memberikan kesempatan yang luas serta mengaktifkan siswa secara mental dan fisik dalam belajar. Keaktifan itu dapat terwujud latihan, praktek atau mencoba melaksanakan sesuatu.
3.      Tidak terlalu menyulitkan bunyi guru dalam penyusunan, pelaksanaan, dan penilaian program pengajaran.
4.      Dapat mengarahkan kegiatan belajar ke arah tujuan pengajaran.
5.      Mengembangkan kreativitas siswa.
6.      Mengembangkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Metode-metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa yaitu:
a.      Direct Method
b.      Natural Method
c.       Reading Method
d.      Eclecting Method
2.     Teknik pembelajaran yang bisa dilakukan dalam proses pembelajaran bahasa antara lain:
a.       Teknik Ceramah
b.      Teknik Tanya Jawab
c.       Teknik Diskusi Kelompok
d.      Teknik Pemberian Tugas
e.       Teknik Ramu Pendapat
f.       Simulasi
3.      Metode dan teknik pembelajaran yang baik yaitu tidak hanya menggunakan atau memicu satu metode saja melainkan harus menyesuaikan materi yang diajarkan sesuai metode yang tepat. Selain itu guru harus bisa kreatif dalam mengajarkan materi di kelas, tidak monoton dan membosankan melalui pilihan metode yang tepat. Sebenarnya teknik pengajaran itu bersifat netral. Tidak ada yang jelek juga tidak ada yang baik. Baik buruknya teknik pengajaran bergantung pada penggunaannya. Bila digunakan secara tepat ia akan menjadi baik, dan sebaliknya.




4.      
DAFTAR PUSTAKA

T. W. Solchan dkk. 2011. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia. Jakarta: Universitas Terbuka.
Tarigan Djago dan Tarigan H. G. 1987. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Utari Sri dan Nababan Subyakto. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.





[1] Drs. Solchan dkk. Materi Pokok Pendidikan Bahasa Indonesia di SD. (Jakarta: Universitas terbuka, 2011). Hlm,1.1
[2] Ibid,. Hlm,3.9-3.10
[3] Ibid,. Hlm,3.12-3.16

[4] Sri Utari dan Subyakto Nababan. Metodologi Pengajaran Bahasa. (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama,1993). Hlm, 167
[5] Drs. Solchan dkk. Op. Cit. Hlm,3.16-3.20

[7] Ibid,.
[9] Ibid,.
[11] Ibid,.
[12] Djagu Tarigan dan H. G Tarigan. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. ( Bandung: Angkasa, 1987). Hlm, 38 -41