MAKALAH TEORI HUMANISTIK
MENURUT CARL ROGERS DAN ABRAHAM MASLOW
Disusun guna
memenuhi tugas
Mata Kuliah : Teori Pembelajaran
Dosen Pengampu :
Wahidin, M.Ag.

Disusun Oleh :
1.
Alvi Nirawati (115-12-021)
2.
Elly Fatmawati (115-12-083)
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU
MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) SALATIGA
2013
KATA
PENGANTAR
Puji syukur
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayah-Nya
kepada kita semua. Sehingga kami bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan
ridho-Nya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan
rencana. Makalah ini kami beri judul “Teori Humanistik menurut Carl Rogers dan Abraham Maslow” dengan harapan semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat khususnya untuk diri kami sendiri dan juga untuk para pembaca.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita
Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu
memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Wahidin, M.Ag selaku
dosen pengajar mata kuliah Teori Pembelajaran, yang telah membimbing kami dan kepada semua pihak yang terlibat dalam
pembuatan makalah ini hingga selesai.
Semoga
makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan
pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa STAIN Salatiga. Kami sadar
bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk
itu, kepada dosen pembimbing kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami
di masa yang akan datang dan mengharapkan kritik dan
saran dari para pembaca.
Salatiga, Oktober 2013
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR
ISI.....................................................................................................................iii
BAB I
PENDAHULUAN..................................................................................................1
A.
Latar Belakang.........................................................................................................1
B.
Rumusan Masalah....................................................................................................1
C.
Tujuan
Penulisan......................................................................................................1
BAB
II PEMBAHASAN...................................................................................................3
A.
Biografi Carl Rogers................................................................................................3
B.
Konsep Dasar Teori Rogers.....................................................................................3
C.
Implementasi Teori Rogers......................................................................................5
D.
Biografi Abraham Maslow.......................................................................................6
E.
Konsep Dasar Teori Abraham
Maslow....................................................................6
F.
Implementasi Teori Maslow.....................................................................................8
BAB
III PENUTUP..........................................................................................................10
A.
Kesimpulan............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................iiii
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Aliran humanistik muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi
ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behabvioristik. Sebagai
sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relative masih muda,
bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yag
relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya
kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.
Teori belajar humanistik bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar
dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori
belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya
bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini sifatnya lebih abstrak
dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi
dibanding tentang psikologi belajar. Teori humanisme lebih mementingkan isi
yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih
banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan unttuk membentuk manusia yang
dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Dalam hal ini, penulis akan membahas makalah tentang Teori Humanistik Menurut Abraham
Maslow dan Carl Rogers.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Carl Rogers?
2. Bagaimana konsep dasar teori Carl Rogers?
3. Bagaimana implementasi dari teori Rogers?
4. Bagaimana biografi Abraham Maslow?
5. Bagaimana konsep dasar teori Abraham Maslow?
6. Bagaimana implementasi dari teori Abraham Maslow?
C.
Tujuan Penulisan
1. Mengetahui biografi Carl Rogers
2. Menjelaskan konsep dasar teori Carl Rogers
3. Menjelaskan implementasi dari teori Rogers
4. Mengetahui biografi Abraham Maslow?
5. Menjelaskan konsep dasar teori Abraham Maslow?
6. Menjelaskan implementasi dari teori Abraham Maslow?
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Carl Rogers
Carl Rogers dilahirkan di Oak Park,
Illionis, pada tanggal 8 januari 1902 dan meninggal pada tahun 1987. Dia anak
dari pasangan Walter dan Julia. Pada tahun 1928 dia menerima gelar MA di
Universitas Columbia, dan gelar Ph.D. Pada tahun 1931 di Universitas yang sama
dalam bidang psikologi pendidikan dan klinis. Selama tahun 1927-1928 Rogers
memulai praktik pertamanya dalam psikologi klinis dan menjadi anggota dari
institut Bimbingan Anak.[1]
Setelah memperoleh gelar doktor, Rogers
bekerja di Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Tahun
1940 Rogers mendapat tawaran untuk menjadi profesor psikologi di Ohio State
University yang mengharuskan Ia berkecimpung dalam bidang akademik.[2]
Rogers adalah salah seorang peletak
dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi
melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan latihan lainnya yang
ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun
teorinya berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena
dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya
dinamakan "person-centered theory".[3]
B.
Konsep Dasar Teori Rogers
Pandangan Rogers terhadap manusia, pada
dasarnya manusia itu baik dan mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang, dapat memahami
dirinya sendiri serta dapat mengatasi masalah masalahnya.[4]
Konsep penting dari Carl Rogers antara
lain:[5]
1.
Organisme
Organisme yaitu makhluk
fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun
psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan
pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang
terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external world).
2.
Self
Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang
dewasa ini dikenal dengan "self concept" (konsep diri). Rogers
mengartikannya sebagai "persepsi tentang karakteristik 'I' atau 'me' dan
persepsi tentang hubungan 'I' atau 'me' dengan orang lain atau berbagai aspek
kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut".
Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri, seperti: "Saya
cantik", "Saya seorang pekerja yang jujur", dan "Saya
seorang pelajar yang rajin". Hubungan antara "self concept"
dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu
"congruence" atau "incongruence". Kedua kemungkinan
hubungan ini menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian, dan kesehatan
mental.
Dalam psikoterapi, Rogers dikenal
sebagai pencetus pendekatan nondirective, yaitu teknik yang digunakan dalam
hubungan dengan orang lain (klien) yang dilakukan dengan tidak mengarahkan,
tidak memberi petunjuk, dan tidak memberi nasehat, namun dilakukan dengan
membangun hubungan yang simpatik, merefleksikan perasaan-perasaan klien dan
memusatkan pada klien hingga klien menemukan dirinya sendiri.
Pokok-pokok penting dalam teori Rogers adalah:
1.
Unconditional positive regard
Pandangan positif terhadap klien dan menerima klien apa adanya
bagaimanapun keadaannya.
2.
Tidak mengevaluasi klien
Tidak menilai baik atau buruk, salah atau benar, menerima klien apa
adanya tidak harus menyetujui.
3.
Sympathetic ears
Terapi mendengarkan keluhan klien dengan penuh simpati, menunjukkan
pemahaman dan penerimaan.
4.
Terapi berperan sebagai reflective
mind
Memantulkan kembali perasaan klien, memperjelas dan mengklarifikasi
perasaan atau pikiran-pikiran klien. Dengan cara itu membuat klien memahami dan
dapat menyembuhkan dirinya sendiri.[6]
C.
Implementasi Teori
Rogers
Pendidik mempunyai tanggung jawab besar
untuk mendorong siswa agar menjadi manusia yang berkembang utuh sesuai yang
diharapkan. Belajar siswa akan berguna bila sesuai dengan kondisi pribadi siswa
dan relevan dengan karakter, dan
perkembangannya. Peran guru menurut pandangan ini adalah sebagai fasilitator,
yang bertugas menyiapakan kondisi agar siswa memiliki kebebasan mengembangkan
emosi, intelektual dan motoriknya.[7]
Guru atau mengajar bukan sesuatu yang
penting, yang penting adalah siswa dan aktifitas belajar siswa. Siswa merupakan
pihak utama dalam pengambilan keputusan pendidikan. Pengajaran perlu
memperhatikan perbedaan masing-masing individu dan tugas guru sebagai penyedia
fasilitas, bukan aktor utama aktivitas belajar. Belajar yang berorientasi pada
siswa memerlukan pengenalan terhadap kebutuhan siswa, agar pengajaran
benar-benar bermakna. Ketika siswa menyadari adanya masalah yang memerlukan
keharusan belajar, maka siswa akan mau belajar.[8]
Pandangan Rogers dalam belajar yang
penting antara lain, bahwa pengalaman belajar harus digunakan secara ekstensif
dalam praktek pendidikan secara luas. Aktifitas belajar hendaknya tidak sekedar
menekankan pada aspek kognitif namun yang lebih penting adalah pengalaman
belajar. Pengalaman belajar membuat siswa terlibat secara emosional, sehingga
mendorong keterlibatan siswa secara total terhadap aktivitas belajar yang
sedang dilakukan.[9]
D.
Biografi Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York,
pada tanggal 1 April 1908. Maslow berkembang dalam iklim keluarga yang kurang
menyenangkan. Karena orang tuanya tidak memberikan kasih sayang, ayahnya
bersikap dingin dan tidak akrab, dan sering tidak ada dirumah dalam waktu yang cukup
lama.
Maslow mengemukakan keyakinan yang penuh akan filsafat
hidupnya,seluruh penelitian dan perumusan teorinya berakar dari kebencian untuk melawan terhadap
segala sesuatu yang telah dilakukan ibunya.[10]
Maslow seorang pendukung aliran dinamik
holistik. Dari berbagai tulisannya jelas sekali kesamaannya dengan pandangan
Goldstein dan Angyal teman sejawatnya di Brandeis. Maslow meninggal pada
tanggal 8 Juni tahun 1970 karena serangan jantung. Karyanya banyak yang
diterbitkan setelah yang bersangkutan meninggal.[11]
E.
Konsep Dasar Teori
Abraham Maslow
Maslow mempunyai pandangan yang positif
tentang manusia,bahwa manusia mempunyai potensi untuk maju dan berkembang.
Manusia akan mengalami pematangan melalui lingkungan yang menunjang dan usaha
aktif dari diri sendiri untuk merealisasikan potensinya. Manusia yang melakukan
kekerasan pada dasarnya karena kodrat batinnya dibelokkan atau karena
lingkungan yang salah. Karena itu Maslow tidak meneliti orang yang mengalami
gangguan jiwa dan cidera otak, melainkan meneliti orang-orang yang sehat dan
kreatif untuk mengetahui ciri-ciri orang yang kreatif dan berhasil mengaktualisasikan diri.[12]
Maslow yakin bahwa banyak tingkah laku
manusia yang bisa di terangkan dengan memperhatikan tendensi individu untuk
mencapai tujuan -tujuan personal yang membuat kehidupan bagi individu yang
bersangkutan penuh makna dan memuaskan. Maslow melukiskan manusia sebagai
makhlukyang tidak pernah berada dalam keaadaan sepenuhnya puas. Bagi manusia,
kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka
kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan muncul menuntut pemuasan, begitu
seterusnya.[13]
Oleh Maslow kebutuhan manusia yang
tersusun bertingkat itu di rinci ke dalam 5 tingkat kebutuhan, yakni:[14]
1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis
Kebutuhan manusia yang
paling mendesak untuk dipenuhi karena berkaitan dengan kelangsungan hidup.
Kebutuhan ini berupa makan, minum, oksigen, istirahat dan keseimbangan teratur.
Bila kebutuhan individu tidak terpenuhi maka individu tidak akan bergerak untuk
meraih kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kebutuhan akan rasa aman
Merupakan kebutuhan psikologis yang
fundamental dan perlu dipenuhi. Apabila pemenuhan kebutuhan akan rasa aman
terhambat pemenuhannya, akan menimbulkan gangguan kepribadian yang serius.
Walau begitu, kebutuhan ini akan tercapai setelah seseorang terpenuhi kebutuhan
dasarnya. Kebutuhan rasa aman dibedakan menjadi dua yaitu aman scara fisik dan
aman secara psikologis. Aman secara fisik ditandai dengan keadaan bebas rasa
sakit, bebas dari gangguan dan kekacauan sedangkan aman secara psikis terlihat
dari tiadanya rasa takut, cemas dan ada perlindungan.
3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki
Merupakan kebutuhan yang mendorong
seseorang berinteraksi secara efektif dan emosional dengan orang lain.
Kebutuhan ini tumbuh dilingkungan keluarga, berkembang ke lingkungan kelompok
sebaya dan akhirnya menuju pada kelompok sosial yang lebih luas. Kurangnya
kasih sayang menyebabkan perkembangan seseorang terhambat.
4. Kebutuhan akan rasa harga diri
Kebutuhan ini
mengandung dua konsep yaitu rasa harga diri oleh diri sendiri serta penghargaan
yang diberikan orang lain terhadap diri seseorang. Harga diri meliputi
kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetisi, penguasaan, prestasi, kebebasan dan
ketidaktergantungan. Sementara kebutuhan penghargaan dari orang lain meliputi
pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, nama baik dan penghargaan.
Terpenuhinya self esteem pada diri seseorang akan merangsang timbulnya
sikap percaya diri, rasa kuat, rasa mampu, rasa berguna. Sementara self
esteem rendah menghasilkan sikap rendah diri, rasa tak pantas, rasa lemah,
rasa tak mampu, rasa tak berguna menyebabkan yang bersangkutan dihantui
kehampaan, keraguan dan keputusasaan menghadapi hidup.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan tertinggi dari
semua kebutuhan yang dikemukakan Maslow. Kebutuhan ini akan muncul dan
terpuaskan bila kebutuhan lain dibawahnya sudah terpenuhi. Aktualisasi diri
merupakan kebutuhan yang ada dalam diri manusia untuk mengekspresikan,
mengenbangkan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki. Juga merupakan
dorongan dalam diri untuk menjadi diri sendiri seperti apa yang dikehendaki.
Bisa juga dikatakan sebagai pengungkapan hasrat untuk menyempurnakan
keberadaannya.
F.
Implementasi Teori
Maslow
Konsep terpenting dari Maslow adalah
keyakinannya yang positif terhadap diri manusia. Manusia pada dasarnya baik,
kreatif, mempunyai potensi untuk maju dan mengembangkan diri. Manusia
dimotivasi oleh beberapa kebutuhan yang senantiasa menggerakkan seseorang untuk
berusaha mencapai tujuan. Konsep akan penghargaan yang tinggi atas manusia
mampu melejitkan banyak orang sukses dalam karier dan usaha. Syarat
terbentuknya kreativitas dan etos kerja yang tinggi adalah terpenuhinya
beberapa kebutuhan.kebutuhan yang pertama kali harus terpenuhi adalah kebutuhan
dasar atau kebutuhan fisiologis yang meliputi sandang, pangan dan papan sebagai
syarat terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi.[15]
Implementasinya dalam dunia pendidikan,
guru, orang tua dan orang dewasa lain perlu mengupayakan kebutuhan dasar agar
kebutuhan lain yang tinggi juga terpenuhi. Olahraga, istirahat cukup, udara
yang sejuk, makanan yang bergizi penting diperhatikan. Itulah sebabnya, di
sekolah terdapat bidang studi Olahraga dan Kesehatan, juga diberikan waktu
istirahat di sela-sela pelajaran.itu merupakan sebagian upaya mendorong
terpenuhi kebutuhan fisiologis anak.[16]
Rasa aman adalah perasaan terbebas dari
ancaman, tidak dihantui ketakutan dan kekhawatiran. Merasa aman menjadi syarat
terpenuhinya rasa sayang dan disayangi. Rasa aman pada anak bisa diciptakan dan
diusahakan oleh guru atau orang tua dengan menghargai diri anak sesuai potensi
yang dimiliki. Menghindarkan sikap tak acuh, mencemooh, ejekan, olok-olok,
karena dapat membuat si anak merasa tidak dihargai. Tanpa kasih sayang anak
tumbuh menjadi pribadi yang kering, penuh rasa dendam yang bisa muncul dalam
bentuk kejahatan atau melanggar norma masyarakat dikemudian hari.[17]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1.
Carl Rogers dilahirkan di Oak
Park, Illionis, pada tanggal 8 januari 1902 dan meninggal pada tahun 1987. Selama tahun
1927-1928 Rogers memulai praktik pertamanya dalam psikologi klinis dan menjadi
anggota dari institut Bimbingan Anak. Setelah memperoleh gelar doktor, Rogers bekerja di
Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Tahun 1940 Rogers
mendapat tawaran untuk menjadi profesor psikologi di Ohio State University yang
mengharuskan Ia berkecimpung dalam bidang akademik. Dia membangun teorinya
berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia
menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya
dinamakan "person-centered theory".
2.
Konsep penting dari Carl Rogers
antara lain organisme dan self. Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua
fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis sedangkan Self merupakan konstruk utama dalam
teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan "self
concept" (konsep diri).
3.
Implementasi dari teori rogers adalah bahwa
pengalaman belajar harus digunakan secara ekstensif dalam praktek pendidikan
secara luas. Aktifitas belajar hendaknya tidak sekedar menekankan pada aspek
kognitif namun yang lebih penting adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar
membuat siswa terlibat secara emosional, sehingga mendorong keterlibatan siswa
secara total terhadap aktivitas belajar yang sedang dilakukan.
4.
Abraham Harold Maslow
dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow seorang
pendukung aliran dinamik holistik. Dari berbagai tulisannya jelas sekali
kesamaannya dengan pandangan Goldstein dan Angyal teman sejawatnya di Brandeis.
Maslow meninggal pada tanggal 8 Juni tahun 1970 karena serangan jantung.
Karyanya banyak yang diterbitkan setelah yang bersangkutan meninggal.
5.
Konsep dasar teori Maslow bahwa Maslow mempunyai
pandangan yang positif tentang manusia, bahwa manusia mempunyai
potensi untuk maju dan berkembang. Manusia akan mengalami pematangan melalui
lingkungan yang menunjang dan usaha aktif dari diri sendiri untuk merealisasikan potensinya. Oleh Maslow
kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu di rinci ke dalam 5 tingkat
kebutuhan, yakni Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis, Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan akan cinta dan
memiliki, Kebutuhan
akan rasa harga diri, dan Kebutuhan akan aktualisasi diri.
6.
Implementasi
dari teori Maslow bahwa manusia dimotivasi oleh
beberapa kebutuhan yang senantiasa menggerakkan seseorang untuk berusaha
mencapai tujuan. Syarat terbentuknya kreativitas dan etos kerja yang tinggi adalah
terpenuhinya beberapa kebutuhan.kebutuhan yang pertama kali harus terpenuhi
adalah kebutuhan dasar atau kebutuhan fisiologis yang meliputi sandang, pangan
dan papan sebagai syarat terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi.
[1] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian,
Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2007, hlm.142-143
[2] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, Teori Teori Belajar,
Salatiga: STAIN press,2013,hlm.92-93
[3] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, loc.cit.,
[4] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, loc cit.,
[5] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, op cit. Hlm,143-144
[6] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op. cit,hlm.100-101
[7] Ibid,.hlm.101
[8] Ibid,.
[9] Ibid,.hlm 102
[10] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian,
Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2007,hlm.153-154
[11] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op. cit,hlm.92-93
[12] Ibid,.hlm 93
[13] E. Koeswara, Teori teori kepribadian, Bandung: PT EROSCO,
1991, hlm.118
[14] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op cit, hlm.94-96
[15] Ibid,.hlm. 96
[16] Ibid,. Hlm. 97
[17] Ibid,.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf Syamsu dan Nuruhsan Juntika. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sriyanti Lilik, Erawati Muna dan Suwardi.2013.Teori Teori Belajar. Salatiga: STAIN Press
Koeswara E. 1991. Teori Teori
Kepribadian. Bandung: PT Eresco
Tidak ada komentar:
Posting Komentar