Jumat, 24 Januari 2014

MAKALAH TEORI HUMANISTIK MENURUT CARL ROGERS DAN ABRAHAM MASLOW


MAKALAH TEORI HUMANISTIK
MENURUT CARL ROGERS DAN ABRAHAM MASLOW
Disusun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah :  Teori Pembelajaran
Dosen Pengampu : Wahidin, M.Ag.








Disusun Oleh :
1.        Alvi Nirawati      (115-12-021)
2.        Elly Fatmawati   (115-12-083)


JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) SALATIGA
2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan hidayah, taufik, dan inayah-Nya kepada kita semua. Sehingga kami bisa menjalani kehidupan ini sesuai dengan ridho-Nya. Syukur Alhamdulillah kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan rencana. Makalah ini kami beri judul Teori Humanistik menurut Carl Rogers dan Abraham Maslow dengan harapan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk diri kami sendiri dan juga untuk para pembaca.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Karena beliau adalah salah satu figur umat yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari kiamat.
Selanjutnya kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Wahidin, M.Ag selaku dosen pengajar mata kuliah Teori Pembelajaran, yang telah membimbing kami dan kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini hingga selesai.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa STAIN Salatiga. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu,  kepada  dosen  pembimbing  kami  meminta  masukannya  demi  perbaikan  pembuatan  makalah  kami di  masa  yang  akan  datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.




Salatiga, Oktober 2013


Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................ii
DAFTAR ISI.....................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................1
A.      Latar Belakang.........................................................................................................1
B.       Rumusan Masalah....................................................................................................1
C.       Tujuan Penulisan......................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................3
A.      Biografi Carl Rogers................................................................................................3
B.       Konsep Dasar Teori Rogers.....................................................................................3
C.       Implementasi Teori Rogers......................................................................................5
D.      Biografi Abraham Maslow.......................................................................................6
E.       Konsep Dasar Teori Abraham Maslow....................................................................6
F.        Implementasi Teori Maslow.....................................................................................8
BAB III PENUTUP..........................................................................................................10
A.       Kesimpulan............................................................................................................10
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................iiii

 
BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Aliran humanistik  muncul pada tahun 90-an sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap pendekatan psikoanalisa dan behabvioristik. Sebagai sebuah aliran dalam psikologi, aliran ini boleh dikatakan relative masih muda, bahkan beberapa ahlinya masih hidup dan terus-menerus mengeluarkan konsep yag relevan dengan bidang pengkajian psikologi, yang sangat menekankan pentingnya kesadaran, aktualisasi diri, dan ha-hal yang bersifat positif tentang manusia.
Teori belajar humanistik bertujuan bahwa belajar adalah untuk memanusiakan manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika telah memhami lingkungan dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya bukan dati sudut pandang pengamatnya. Teori belajar ini sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang ilmu filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi dibanding tentang psikologi belajar. Teori humanisme lebih mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Teori belajar ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep pendidikan unttuk membentuk manusia yang dicita-citakan serta tentang proses belajar dalam bentuk yang paling ideal.
Dalam hal ini, penulis akan membahas makalah tentang Teori Humanistik Menurut Abraham Maslow dan Carl Rogers.
B.       Rumusan Masalah
1.  Bagaimana biografi Carl Rogers?
2.  Bagaimana konsep dasar teori Carl Rogers?
3.  Bagaimana implementasi dari teori Rogers?
4.  Bagaimana biografi Abraham Maslow?
5.  Bagaimana konsep dasar teori Abraham Maslow?
6.  Bagaimana implementasi dari teori Abraham Maslow?
C.      Tujuan Penulisan
1.  Mengetahui biografi Carl Rogers
2.  Menjelaskan konsep dasar teori Carl Rogers
3.  Menjelaskan implementasi dari teori Rogers
4. Mengetahui biografi Abraham Maslow?
5. Menjelaskan konsep dasar teori Abraham Maslow?
6. Menjelaskan implementasi dari teori Abraham Maslow?



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Biografi Carl Rogers
Carl Rogers dilahirkan di Oak Park, Illionis, pada tanggal 8 januari 1902 dan meninggal pada tahun 1987. Dia anak dari pasangan Walter dan Julia. Pada tahun 1928 dia menerima gelar MA di Universitas Columbia, dan gelar Ph.D. Pada tahun 1931 di Universitas yang sama dalam bidang psikologi pendidikan dan klinis. Selama tahun 1927-1928 Rogers memulai praktik pertamanya dalam psikologi klinis dan menjadi anggota dari institut Bimbingan Anak.[1]
Setelah memperoleh gelar doktor, Rogers bekerja di Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Tahun 1940 Rogers mendapat tawaran untuk menjadi profesor psikologi di Ohio State University yang mengharuskan Ia berkecimpung dalam bidang akademik.[2]
Rogers adalah salah seorang peletak dasar dari gerakan potensi manusia, yang menekankan perkembangan pribadi melalui latihan sensitivitas, kelompok pertemuan, dan latihan lainnya yang ditujukan untuk membantu orang agar memiliki pribadi yang sehat. Dia membangun teorinya berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan "person-centered theory".[3]

B.       Konsep Dasar Teori Rogers
Pandangan Rogers terhadap manusia, pada dasarnya manusia itu baik dan mempunyai potensi untuk tumbuh dan berkembang, dapat memahami dirinya sendiri serta dapat mengatasi masalah masalahnya.[4]
Konsep penting dari Carl Rogers antara lain:[5]
1.        Organisme
Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis. Organisme ini juga merupakan locus (tempat) semua pengalaman, dan pengalaman ini merupakan persepsi seseorang tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam diri sendiri dan juga di dunia luar (external world).

2.        Self
Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan "self concept" (konsep diri). Rogers mengartikannya sebagai "persepsi tentang karakteristik 'I' atau 'me' dan persepsi tentang hubungan 'I' atau 'me' dengan orang lain atau berbagai aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai yang terkait dengan persepsi tersebut". Konsep diri merupakan gambaran mental tentang diri sendiri, seperti: "Saya cantik", "Saya seorang pekerja yang jujur", dan "Saya seorang pelajar yang rajin". Hubungan antara "self concept" dengan organisme (actual experience) terjadi dalam dua kemungkinan, yaitu "congruence" atau "incongruence". Kedua kemungkinan hubungan ini menentukan perkembangan kematangan, penyesuaian, dan kesehatan mental.
Dalam psikoterapi, Rogers dikenal sebagai pencetus pendekatan nondirective, yaitu teknik yang digunakan dalam hubungan dengan orang lain (klien) yang dilakukan dengan tidak mengarahkan, tidak memberi petunjuk, dan tidak memberi nasehat, namun dilakukan dengan membangun hubungan yang simpatik, merefleksikan perasaan-perasaan klien dan memusatkan pada klien hingga klien menemukan dirinya sendiri.
Pokok-pokok penting dalam teori Rogers adalah:
1. Unconditional positive regard
Pandangan positif terhadap klien dan menerima klien apa adanya bagaimanapun keadaannya.
2. Tidak mengevaluasi klien
Tidak menilai baik atau buruk, salah atau benar, menerima klien apa adanya tidak harus menyetujui.
3. Sympathetic ears
Terapi mendengarkan keluhan klien dengan penuh simpati, menunjukkan pemahaman dan penerimaan.
4. Terapi berperan sebagai reflective mind
Memantulkan kembali perasaan klien, memperjelas dan mengklarifikasi perasaan atau pikiran-pikiran klien. Dengan cara itu membuat klien memahami dan dapat menyembuhkan dirinya sendiri.[6]

C.      Implementasi Teori Rogers
Pendidik mempunyai tanggung jawab besar untuk mendorong siswa agar menjadi manusia yang berkembang utuh sesuai yang diharapkan. Belajar siswa akan berguna bila sesuai dengan kondisi pribadi siswa dan relevan dengan karakter,  dan perkembangannya. Peran guru menurut pandangan ini adalah sebagai fasilitator, yang bertugas menyiapakan kondisi agar siswa memiliki kebebasan mengembangkan emosi, intelektual dan motoriknya.[7]
Guru atau mengajar bukan sesuatu yang penting, yang penting adalah siswa dan aktifitas belajar siswa. Siswa merupakan pihak utama dalam pengambilan keputusan pendidikan. Pengajaran perlu memperhatikan perbedaan masing-masing individu dan tugas guru sebagai penyedia fasilitas, bukan aktor utama aktivitas belajar. Belajar yang berorientasi pada siswa memerlukan pengenalan terhadap kebutuhan siswa, agar pengajaran benar-benar bermakna. Ketika siswa menyadari adanya masalah yang memerlukan keharusan belajar, maka siswa akan mau belajar.[8]
Pandangan Rogers dalam belajar yang penting antara lain, bahwa pengalaman belajar harus digunakan secara ekstensif dalam praktek pendidikan secara luas. Aktifitas belajar hendaknya tidak sekedar menekankan pada aspek kognitif namun yang lebih penting adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar membuat siswa terlibat secara emosional, sehingga mendorong keterlibatan siswa secara total terhadap aktivitas belajar yang sedang dilakukan.[9]

D.      Biografi Abraham Maslow
Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow berkembang dalam iklim keluarga yang kurang menyenangkan. Karena orang tuanya tidak memberikan kasih sayang, ayahnya bersikap dingin dan tidak akrab, dan sering tidak ada dirumah dalam waktu yang cukup lama.
Maslow mengemukakan keyakinan yang penuh akan filsafat hidupnya,seluruh penelitian dan perumusan teorinya berakar dari kebencian untuk melawan terhadap segala sesuatu yang telah dilakukan ibunya.[10]
Maslow seorang pendukung aliran dinamik holistik. Dari berbagai tulisannya jelas sekali kesamaannya dengan pandangan Goldstein dan Angyal teman sejawatnya di Brandeis. Maslow meninggal pada tanggal 8 Juni tahun 1970 karena serangan jantung. Karyanya banyak yang diterbitkan setelah yang bersangkutan meninggal.[11]
E.       Konsep Dasar Teori Abraham Maslow
Maslow mempunyai pandangan yang positif tentang manusia,bahwa manusia mempunyai potensi untuk maju dan berkembang. Manusia akan mengalami pematangan melalui lingkungan yang menunjang dan usaha aktif dari diri sendiri untuk merealisasikan potensinya. Manusia yang melakukan kekerasan pada dasarnya karena kodrat batinnya dibelokkan atau karena lingkungan yang salah. Karena itu Maslow tidak meneliti orang yang mengalami gangguan jiwa dan cidera otak, melainkan meneliti orang-orang yang sehat dan kreatif untuk mengetahui ciri-ciri orang yang kreatif  dan berhasil mengaktualisasikan diri.[12]
Maslow yakin bahwa banyak tingkah laku manusia yang bisa di terangkan dengan memperhatikan tendensi individu untuk mencapai tujuan -tujuan personal yang membuat kehidupan bagi individu yang bersangkutan penuh makna dan memuaskan. Maslow melukiskan manusia sebagai makhlukyang tidak pernah berada dalam keaadaan sepenuhnya puas. Bagi manusia, kepuasan itu sifatnya sementara. Jika suatu kebutuhan telah terpuaskan, maka kebutuhan-kebutuhan yang lainnya akan muncul menuntut pemuasan, begitu seterusnya.[13]
Oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu di rinci ke dalam 5 tingkat kebutuhan, yakni:[14]
1. Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis
Kebutuhan manusia yang paling mendesak untuk dipenuhi karena berkaitan dengan kelangsungan hidup. Kebutuhan ini berupa makan, minum, oksigen, istirahat dan keseimbangan teratur. Bila kebutuhan individu tidak terpenuhi maka individu tidak akan bergerak untuk meraih kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kebutuhan akan rasa aman
Merupakan kebutuhan psikologis yang fundamental dan perlu dipenuhi. Apabila pemenuhan kebutuhan akan rasa aman terhambat pemenuhannya, akan menimbulkan gangguan kepribadian yang serius. Walau begitu, kebutuhan ini akan tercapai setelah seseorang terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kebutuhan rasa aman dibedakan menjadi dua yaitu aman scara fisik dan aman secara psikologis. Aman secara fisik ditandai dengan keadaan bebas rasa sakit, bebas dari gangguan dan kekacauan sedangkan aman secara psikis terlihat dari tiadanya rasa takut, cemas dan ada perlindungan.
3. Kebutuhan akan cinta dan memiliki
Merupakan kebutuhan yang mendorong seseorang berinteraksi secara efektif dan emosional dengan orang lain. Kebutuhan ini tumbuh dilingkungan keluarga, berkembang ke lingkungan kelompok sebaya dan akhirnya menuju pada kelompok sosial yang lebih luas. Kurangnya kasih sayang menyebabkan perkembangan seseorang terhambat.
4. Kebutuhan akan rasa harga diri
Kebutuhan ini mengandung dua konsep yaitu rasa harga diri oleh diri sendiri serta penghargaan yang diberikan orang lain terhadap diri seseorang. Harga diri meliputi kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetisi, penguasaan, prestasi, kebebasan dan ketidaktergantungan. Sementara kebutuhan penghargaan dari orang lain meliputi pengakuan, penerimaan, perhatian, kedudukan, nama baik dan penghargaan. Terpenuhinya self esteem pada diri seseorang akan merangsang timbulnya sikap percaya diri, rasa kuat, rasa mampu, rasa berguna. Sementara self esteem rendah menghasilkan sikap rendah diri, rasa tak pantas, rasa lemah, rasa tak mampu, rasa tak berguna menyebabkan yang bersangkutan dihantui kehampaan, keraguan dan keputusasaan menghadapi hidup.
5. Kebutuhan akan aktualisasi diri
Kebutuhan tertinggi dari semua kebutuhan yang dikemukakan Maslow. Kebutuhan ini akan muncul dan terpuaskan bila kebutuhan lain dibawahnya sudah terpenuhi. Aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang ada dalam diri manusia untuk mengekspresikan, mengenbangkan segala kemampuan dan potensi yang dimiliki. Juga merupakan dorongan dalam diri untuk menjadi diri sendiri seperti apa yang dikehendaki. Bisa juga dikatakan sebagai pengungkapan hasrat untuk menyempurnakan keberadaannya.

F.       Implementasi Teori Maslow
Konsep terpenting dari Maslow adalah keyakinannya yang positif terhadap diri manusia. Manusia pada dasarnya baik, kreatif, mempunyai potensi untuk maju dan mengembangkan diri. Manusia dimotivasi oleh beberapa kebutuhan yang senantiasa menggerakkan seseorang untuk berusaha mencapai tujuan. Konsep akan penghargaan yang tinggi atas manusia mampu melejitkan banyak orang sukses dalam karier dan usaha. Syarat terbentuknya kreativitas dan etos kerja yang tinggi adalah terpenuhinya beberapa kebutuhan.kebutuhan yang pertama kali harus terpenuhi adalah kebutuhan dasar atau kebutuhan fisiologis yang meliputi sandang, pangan dan papan sebagai syarat terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi.[15]
Implementasinya dalam dunia pendidikan, guru, orang tua dan orang dewasa lain perlu mengupayakan kebutuhan dasar agar kebutuhan lain yang tinggi juga terpenuhi. Olahraga, istirahat cukup, udara yang sejuk, makanan yang bergizi penting diperhatikan. Itulah sebabnya, di sekolah terdapat bidang studi Olahraga dan Kesehatan, juga diberikan waktu istirahat di sela-sela pelajaran.itu merupakan sebagian upaya mendorong terpenuhi kebutuhan fisiologis anak.[16]
Rasa aman adalah perasaan terbebas dari ancaman, tidak dihantui ketakutan dan kekhawatiran. Merasa aman menjadi syarat terpenuhinya rasa sayang dan disayangi. Rasa aman pada anak bisa diciptakan dan diusahakan oleh guru atau orang tua dengan menghargai diri anak sesuai potensi yang dimiliki. Menghindarkan sikap tak acuh, mencemooh, ejekan, olok-olok, karena dapat membuat si anak merasa tidak dihargai. Tanpa kasih sayang anak tumbuh menjadi pribadi yang kering, penuh rasa dendam yang bisa muncul dalam bentuk kejahatan atau melanggar norma masyarakat dikemudian hari.[17]







BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
1.      Carl Rogers dilahirkan di Oak Park, Illionis, pada tanggal 8 januari 1902 dan meninggal pada tahun 1987. Selama tahun 1927-1928 Rogers memulai praktik pertamanya dalam psikologi klinis dan menjadi anggota dari institut Bimbingan Anak. Setelah memperoleh gelar doktor, Rogers bekerja di Rochester Guidance Center dan kemudian menjadi pemimpinnya. Tahun 1940 Rogers mendapat tawaran untuk menjadi profesor psikologi di Ohio State University yang mengharuskan Ia berkecimpung dalam bidang akademik. Dia membangun teorinya berdasarkan praktik interaksi terapeutik dengan para pasiennya. Karena dia menekankan teorinya kepada pandangan subjektif seseorang, maka teorinya dinamakan "person-centered theory".
2.      Konsep penting dari Carl Rogers antara lain organisme dan self. Organisme yaitu makhluk fisik (physical creature) dengan semua fungsi-fungsinya, baik fisik maupun psikis sedangkan Self merupakan konstruk utama dalam teori kepribadian Rogers, yang dewasa ini dikenal dengan "self concept" (konsep diri).
3.      Implementasi dari teori rogers adalah bahwa pengalaman belajar harus digunakan secara ekstensif dalam praktek pendidikan secara luas. Aktifitas belajar hendaknya tidak sekedar menekankan pada aspek kognitif namun yang lebih penting adalah pengalaman belajar. Pengalaman belajar membuat siswa terlibat secara emosional, sehingga mendorong keterlibatan siswa secara total terhadap aktivitas belajar yang sedang dilakukan.
4.      Abraham Harold Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tanggal 1 April 1908. Maslow seorang pendukung aliran dinamik holistik. Dari berbagai tulisannya jelas sekali kesamaannya dengan pandangan Goldstein dan Angyal teman sejawatnya di Brandeis. Maslow meninggal pada tanggal 8 Juni tahun 1970 karena serangan jantung. Karyanya banyak yang diterbitkan setelah yang bersangkutan meninggal.
5.      Konsep dasar teori Maslow bahwa Maslow mempunyai pandangan yang positif tentang manusia, bahwa manusia mempunyai potensi untuk maju dan berkembang. Manusia akan mengalami pematangan melalui lingkungan yang menunjang dan usaha aktif dari diri sendiri untuk merealisasikan potensinya. Oleh Maslow kebutuhan manusia yang tersusun bertingkat itu di rinci ke dalam 5 tingkat kebutuhan, yakni Kebutuhan-kebutuhan dasar fisiologis, Kebutuhan akan rasa aman, Kebutuhan akan cinta dan memiliki, Kebutuhan akan rasa harga diri, dan Kebutuhan akan aktualisasi diri.
6.      Implementasi dari teori Maslow bahwa manusia dimotivasi oleh beberapa kebutuhan yang senantiasa menggerakkan seseorang untuk berusaha mencapai tujuan. Syarat terbentuknya kreativitas dan etos kerja yang tinggi adalah terpenuhinya beberapa kebutuhan.kebutuhan yang pertama kali harus terpenuhi adalah kebutuhan dasar atau kebutuhan fisiologis yang meliputi sandang, pangan dan papan sebagai syarat terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi.



[1] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2007, hlm.142-143
[2] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, Teori Teori Belajar, Salatiga: STAIN press,2013,hlm.92-93
[3] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, loc.cit.,
[4] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, loc cit.,
[5] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, op cit. Hlm,143-144

[6] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op. cit,hlm.100-101
[7] Ibid,.hlm.101
[8] Ibid,.
[9] Ibid,.hlm 102
[10] Syamsu Yusuf dan Juntika Nurihsan, Teori Kepribadian, Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA, 2007,hlm.153-154
[11] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op. cit,hlm.92-93
[12] Ibid,.hlm 93
[13] E. Koeswara, Teori teori kepribadian, Bandung: PT EROSCO, 1991, hlm.118
[14] Lilik Sriyanti, Muna Erawati dan Suwardi, op cit, hlm.94-96
[15] Ibid,.hlm. 96
[16] Ibid,. Hlm. 97
[17] Ibid,.
 
DAFTAR PUSTAKA

Yusuf Syamsu dan Nuruhsan Juntika. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Sriyanti Lilik, Erawati Muna dan Suwardi.2013.Teori Teori Belajar. Salatiga: STAIN Press
Koeswara E. 1991. Teori Teori Kepribadian. Bandung: PT Eresco
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar